KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan jual di pasar saham belakangan ini membuat dana pensiun berpikir panjang untuk memarkirkan investasi di efek saham. Industri dana pensiun justru memilih berinvestasi di instrumen yang lebih aman seperti deposito dan surat berharga negara (SBN).

Hingga kuartal pertama tahun ini, return on investment (ROI) dapen tercatat sebesar 1,80% turun tipis dibandingkan periode yang sama pada 2018 di level 1,88%.

Selama ini, industri dana pensiun pada instrumen aman dan moderat. Dapen juga tidak tergesa-gesa mengubah racikan investasi.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampai kuartal I tahun ini, penempatan dana investasi dapen terbesar di deposito berjangka perbankan senilai Rp 70,46 triliun atau 26,42% dari dana kelolaan dapen.

Hingga Maret 2019, total dana kelolaan investasi dapen mencapai Rp 266,69 triliun. Nilai ini tumbuh 3,77% secara year on year (yoy) dari posisi yang sama tahun lalu senilai Rp 257,01 triliun.

Dapen juga banyak berinvestasi di SBN yakni Rp 62,01 triliun atau 23,25% dari total investasi. Berikutnya di obligasi korporasi dengan porsi 20,74% atau Rp 55,30 triliun.

Sedangkan penempatan dana investasi dapen di saham sebesar Rp 32,06 triliun atau 12,02% dari total investasi. Berkat racikan investasi ini, dapen berhasil mencatatkan hasil investasi sebesar Rp 4,75 triliun.

Direktur Eksekutif Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Bambang Sri Muljadi menyatakan meskipun pasar saham dalam negeri masih penuh sentimen negatif, dapen akan tetap pada strategi yang sudah ada.

Menurut Bambang imbal dapen sedikit lebih rendah, kecuali bagi dana pensiun yang agresif maka imbal hasil akan lebih tinggi. Namun bisa juga lebih rendah bila salah dalam memilih saham.

“Proyeksi imbal hasil dana pensiun sepanjang 2019 rata-rata 7% hingga 8%. Namun juga ada beberapa dana pensiun yang bias mencatatkan imbal hasil yang lebih tinggi,” ujar Bambang kepada Kontan.co.id pada Selasa (7/5).

Ketua Pengurus Dan Pensiun Astra Suheri menyatakan meskipun saham mengalami tekanan, pihaknya tidak akan merubah racikan investasi dan akan konsisten dengan komposisi portofolio yang sudah ada. Meski tidak merinci proporsi penempatan dana investasi, Suheri mengaku Dapen Astra lebih dominan menempatkan pada instrumen saham.

Dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) Syariah Muamalat menempatkan investasi di deposito sebesar 57%, sukuk 36 %, reksadana 6% dan saham 1%. Direktur DPLK Muamalat Sulistyowati menyatakan penempatan portofolio di sukuk negara telah mengalami pertumbuhan yang signifikan yakni mencapai 77% secara tahunan menjadi Rp 370 miliar pada Maret 2019.

Di sisi lain, soal return on investment (ROI) di kuartal I 2019 ini mencapai 2,91 %. Hal ini diperoleh dari dana kelolaan yang ikut tumbuh 14% yoy dari Rp 1,3 triliun menjadi Rp 1,47 triliun pada kuartal pertama 2019.

 

Artikel ini diambil dari https://keuangan.kontan.co.id/news/pasar-tertekan-dapen-parkir-dana-investasi-ke-deposito-dan-sbn