Bisnis.com, JAKARTA — Realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai sampai dengan 31 Juli 2026 tercatat sebesar Rp182,6 triliun. Dari tiga komponen penerimaan, pos cukai mencatat pertumbuhan paling rendah, yakni hanya 3% secara tahunan (YoY) dibandingkan posisi Juli 2025 yang sebesar Rp126,9 triliun.
Secara keseluruhan, penerimaan kepabeanan dan cukai hingga Juli 2026 tumbuh 6,7% (YoY) dari Juli 2025 yang tercatat Rp171,1 triliun. Realisasi ini baru mencapai 54,3% dari target tahun 2026 sebesar Rp336 triliun.
Cukai Jadi Kontributor Terbesar meski Pertumbuhan Melambat
Di antara ketiga sumber penerimaan, cukai memang tumbuh paling lambat, sementara bea keluar dan bea masuk masing-masing mencatatkan pertumbuhan dua digit dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
“Berdasarkan jenis penerimaan, cukai masih menjadi kontributor terbesar dengan realisasi sebesar Rp130,7 triliun tumbuh hingga 3% dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu Djaka Budhi Utama pada rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (7/9/2026).
Pertumbuhan penerimaan cukai didorong oleh dampak penegakan hukum, sehingga produksi rokok dan minuman mengandung etil alkohol (MMEA) tetap terjaga. Meski demikian, realisasi setoran cukai sampai Juli 2026 baru mencapai sekitar 53,6% dari target Rp243,5 triliun.
Bea Masuk Tumbuh Signifikan Berkat Peningkatan Impor
Penerimaan bea masuk terkumpul sebesar Rp31,5 triliun, tumbuh 12,2% (YoY) dari Juli 2025 yang sebesar Rp28 triliun. Selain pertumbuhannya yang lebih tinggi, realisasi bea masuk juga melampaui cukai dari sisi pencapaian target, yakni mencapai 63% dari target Rp49,9 triliun. Pos penerimaan ini ditopang oleh peningkatan volume impor serta pergerakan kurs.
Bea Keluar Tumbuh Tertinggi namun Realisasi Terendah
Penerimaan bea keluar terealisasi sebesar Rp20,4 triliun, tumbuh hingga 26,3% (YoY) dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp16,2 triliun. Meskipun mencatatkan pertumbuhan tertinggi di antara ketiga pos penerimaan, realisasi bea keluar justru menjadi yang terendah karena baru mencapai 47,9% dari target APBN sebesar Rp42,5 triliun.
“Kinerja bea keluar didorong oleh penguatan harga CPO dan kenaikan volume ekspor CPO,” terang Djaka.
Proyeksi Shortfall hingga Akhir Tahun
Berdasarkan outlook, penerimaan kepabeanan dan cukai diproyeksikan meleset dari target pada akhir tahun ini. Dari target Rp336 triliun, otoritas fiskal memperkirakan realisasi hanya akan menyentuh angka Rp320,6 triliun, yang berarti terjadi shortfall sebesar Rp15,4 triliun.
Penulis: Dany Saputra | Editor: Dwi Nicken Tari
Artikel ini diambil dari: https://ekonomi.bisnis.com/read/20260908/259/2002243/realisasi-penerimaan-cukai-rokok-cs-baru-terkumpul-53-dari-target